A LUTA CONTINUA!

Proclamação da RENETIL 20 de Junho de 1988
RESISTENCIA NACIONAL DOS ESTUDANTES DE TIMOR LESTE
Kria Sociedade nebe kritika, civika no soberana Formasaun Cidadania Hametin instituisaun estadu Kontrola no promove desenvolvimentu social

20 Junho 1988
Fundadores
Kongreso
Historia Congresso Estrutura Document
Hilmar Farid
“Renetil bagi saya bukan sekedar organisai, tapi dia adalah sebuah komitment, dia adalah sebuah senar" - HILMAR FARID (Gerakan Solidaritas untuk Timor).
Fernando La Sama
"prepara elementus profisionais ho konsiensia revolusionaria para rekonstrusaun nasional. Revolusionario ho sentidu katak anti korupsaun, anti nepotismo, anti buat ida dehan katak KKN, servi lolos povu tuir saida mak povu nia hakarak" (AMRT - Arquivo & Museu da Resistência Timorense)
Fernando Lasama Miguel Manetelu Jose Neves Samalarua Francisco JMB Belo

sexta-feira, 9 de outubro de 2009

Tragedi Kemanusiaan Joana Alves dan Perayaan Referendum 2009 Timor-Leste

Dalam kehidupan sehari-hari terjadi banyak tragedi kemanusiaan yang tidak sempat mencuat menjadi topik diskusi bangsa, namun baru-baru ini, media nasional di Timor-Leste menyajikan satu cerita kemanusiaan yang memilukan. Tragedi itu bernama Joana Alves, seorang anak perempuan yang berasal dari Pulau Atauro. Joana yang sudah sakit parah sewaktu diantar ke Rumah Sakit, kemudian meninggal dunia. Cerita kematiaan Joana sungguh menggugah hati. Ayah Joana yang terlalu miskin, tak mampu membeli obat untuk sakit yang diderita, masih juga terlalu miskin untuk membeli obat formalin demi mengawetkan atau paling tidak, menunda kerusakan jasadnya. Kemiskinan juga yang memaksa sang ayah bersama dengan jasad kecilnya harus melewati dinginnya malam di bibir pantai kota Dili demi menunggu transportasi laut untuk menyeberang kembali kerumahnya.

Cerita memilikan ini juga pernah terjadi di masa lalu. Pada suatu malam, seorang ayah terpaksa harus menggendong sendiri jasad anaknya pulang kerumah hanya karena ambulans menolak untuk membantu mengantar mereka pulang kerumah. Ayah anak ini, sama seperti ayah Joana terlalu miskin untuk mendapat perhatian dari orang lain.

Satu pertanyaan mendasar yang patut kita semua tanyakan: mengapa dalam Timor-Leste yang merdeka bisa terjadi kejadian seperti ini? Dari dua pengalaman beda jaman di atas, ternyata jawabnya adalah pada kepekaan kita sebagai sesama yang begitu rendahnya sehingga kita menganggap enteng kondisi orang lain yang kebetulan miskin. Andai saja nama keluarga (marga) Joana bukanlah “Alves dari Atauro”, mungkin nasibnya akan lain. Atau andai saja ayahnya mengendarai mobil mewah bermerek Toyota Pajero atau Toyota Prado, maka mungkin pelayanan kepada Joana akan lain, sehingga nasibnya mungkin tidak setragis ini. Sangat ironis jika kondisi kemiskinan yang diderita oleh mayoritas rakyat Timor-Leste malah menjadi cap pembeda untuk mendapatkan pelayanan yang dari suatu institusi Negara.

Penyakit ketidakpedulian pada penderitaan orang lain ini juga menjangkiti elit politik Timor-Leste. Contohnya, anggota Parlemen periode 2002-2007 sesaat sebelum usai masa baktinya, mereka secara khusus memproduksi satu undang-undang yang bertujuan untuk memberi fasilitas bagi mereka sendiri. Dalam undang-undang tersebut, setiap anggota Parlemen yang tidak lagi terpilih, tetap berhak untuk menerima gaji, perumahan, listrik, telefon, serta tunjangan lainnya, termasuk sekretaris pribadi dan perjalanan keluar negeri atas biaya dari rakyat. Dengan isi undang-undang seperti ini, maka sangat mudah ditebak bahwa anggota Parlemen yang baru dilantik periode 2007-2012 tidak akan mungkin membuat perubahan apapun karena mereka tahu persis undang-undang ini akan juga memberi keuntungan bagi mereka seandainya tidak lagi terpilih kembali! Malah, Parlamen 2007-2012 mulai membahas kenaikan gaji yang begitu sangat-amat tinggi dari US$1,200/bulan menjadi minimal US$3,000/bulan. Angka yang fantastic meningat mayoritas rakyat Timor-Leste yang masih hidup melarat hanya dengan US$ 0.80/hari!

Pejabat Negara pun tidak mau ketinggalan, mereka menjalani kehidupan serba wah seakan-akan sedang berada di dunia yang berbeda dari mayoritas rakyat. Ada pejabat yang memberikan proyek kepada suami/istri sendiri dan bahkan kepada dirinya sendiri dengan mengecoh sistem tender yang ada sehingga hampir tiba-tiba sudah bisa mengendarai mobil mewah ala artis Hollywood, sementara ada yang doyan membagi-bagi proyek dan posisi pegawai kepada perempuan yang mereka sukai, yang lain turun sendiri ke rakyat membawa uang tunai (cash) ditangan dengan menjungkir-balikkan sistem akuntabilitas moderen. Hampir setiap hari, mereka juga mondar-mandir dengan mobil bersirene mereka di jalanan kota Dili, dengan memaksa pengguna jalan lainnya minggir dan menjadikan jalanan padat itu bagaikan jalan tol pribadi untuk mereka, tidak peduli bahwa jalan raya merupakan fasilitas umum! Bahkan rambu lalu-lintas yang merupakan materialisasi dari hukum dan lambang wibawa negara, tidak lagi berlaku bagi mereka. Singkatnya, sebagai pejabat (meskipun pejabat di Negeri termiskin di dunia), mereka berlagak diatas hukum!

Semua ini terjadi di Timor-Leste yang masih sangat miskin. Timor-Leste yang lebih dari 50 % rakyat hidup dengan kurang dari 1 Dollar Amerika (sekitar 10 ribu Rupiah) perhari! Timor-Leste yang sekitar 50% rakyatnya masih menderita Malnutrisi!

Mayoritas pejabatpun jalan sendiri-sendiri, ibarat musik Jazz, mereka melakukan improvisasi sesuka hati. Dalam Jazz, improvisasi menghasilkan musik indah, namun dalam pemerintahan, improvisasi mengindikasikan permasalahan dan hanya akan menghasilkan masalah baru yang lebih rumit di masa depan. Rencana tahunan hanya tinggal rencana, karena terlaksananya suatu proyek/program sangat tergantung pada “mood” sang pejabat, karena itu banyak sekali program-program baru yang muncul jauh hari setelah anggaran di setujui oleh Parlemen. Program-program baru ini adalah program dadakan, yang sepertinya muncul tiba-tiba bagaikan ilham yang diturunkan kepada sang pejabat dari Sang Kuasa.

Pelaksanaan pemerintahan yang sejatinya seperti “dua sisi mata uang” yang mesti berjalan seimbang antara eksekusi anggaran dan rejim audit, dalam kenyataan pemerintahan berjalan seperti “mata uang bersisi tunggal”, karena eksekusi anggaran berjalan hampir-hampir tanpa fungsi kontrol, apalagi akuntabilitas! Perencanaan pembangunan juga menjadi amburadul dan hanya satu arah yaitu dari atas mendikte pembangunan ke bawah. Benar-benar merupakan “ramuan ajaib” untuk menciptakan musibah dalam kehindupan berbangsa dan bernegara dimasa yang akan datang.

Semua ini terjadi karena di tingkat elit politik, telah ada semacam saling pengertian diantara mereka. Parlemen sendiri sudah dinetralisir dan tidak akan banyak bertanya lagi karena mereka sendiri sudah terlalu banyak menuntut: gaji setinggi langit, mobil dinas mewah, laptop mewah, ditambah lagi jaminan gaji meskipun tidak lagi terpilih kembali! Meskipun kenyataannya bahwa di Timor-Leste masih terdapat ratusan ribu “Joana Alves” yang lain, hal ini tidak akan mencegah mereka untuk menikmati sepuasnya kesempatan berkuasa di negeri miskin ini. Mereka hanya perlu sibuk ber-handphone ria (atau tidur) selama sidang pleno berlangsung, ongkang-ongkang kaki, angkat tangan voting mengikuti yang duduk didepan, terima gaji dan jjs (jalan-jalan santai) dengan Toyota Pajero berkaca-jendela gelap! Hanya segelintir orang yang benar-benar peduli kepada nasib bangsa dan nasib rakyat kecil yang masih akan tetap menjalankan fungsi sejati Parlemen sebagai lejislator, bukannya sebagai jurubicara dan tukang stempel Pemerintah. Sungguh Ironis, semua ini terjadi disaat rakyat Timor-Leste sedang merayakan 10 tahun Refendum.

Panitia perayaan Referendum lebih banyak hanya mengulang, tanpa perubahan apapun, semua kegiatan perayaan Tujuh-belasan di zaman Timor-Leste masih bernama Timor Timur. Kita juga ada “Gerak-Jalan”, ada PASKIBRA, dan juga Pameran. Semua dijiplak mentah-mentah. Ditambah lagi dengan mendatangkan artis luarnegeri yang mahal, perayaan 10 tahun Referendum bukan lagi mengenai sejauh mana bangsa Timor-Leste telah berhasil membebaskan rakyatnya dari Kemiskinan, dari Kebodohan dan dari Penyakit, melainkan hanya menjadi pesta-pora untuk hura-hura!

Karena itu tidak heran jika pada 20 Mei 2009 lalu ketika pada saat perayaan Hari Restorasi Kemerdekaan meski PASKIBRA menjatuhkan Bendera Nasional ketanah, malam harinya, Panitia malah mengadakan pesta untuk mereka: minum-minum dan berdansa dengan uang rakyat! Pesta ini juga dihadiri oleh Presiden Parlemen.

Negeri ini sepertinya kebingungan untuk bertindak: Tidak tahu apakah harus menghukum atau malah memberi penghargaan kepada orang yang melakukan kesalahan. Timor-Leste seperti ini bukanlah Timor-Leste yang kita angankan 10 tahun silam. Tidak ada alasan bahwa Timor-Leste masih muda sehingga kesalahan dapat ditolerir, karena “waktu” seharusnya digunakan sebaik-baiknya untuk persiapan, bukannya sebagai alasan untuk menjustifikasi ketidakmampuan.

Jalan memang masih panjang untuk mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan.

From: Abel Pires da Silva
Add sender to Contacts To: renetil@yahoogroups.com

1 comentário:

hatutan disse...

kalian sama saja masih diluar beri janji muluk setelah dalam lingkaran dan cengkraman maun abut tidak berani berkotek, sadarlah kalian memakai nama povu hanya untuk kepentinagan sekelompok, Diamana Lasama diam kayak tuli, dimana Asanami buta seperti tdk melihat itu artinya Pioner renetil tidak punya hati Nurani untuk Rakyat jelata.

saya bukan simpatisan suatu organisasi atau partai ttt tapi saya adslah anak bangsa ini yang prihatin dengan nasib rakyat yg sudah miskin masih ditipu lagi oleh pembesar bangsa ini.

Jika renetil Punya hati Nurani untuk negeri ini tunjukan bahwa kalian bisa membedung keburukan yang dilempar ke mata rakyat dan membela kebenaran hakiki yaitu kebenaran itu sendiri.

Renetil = Partai demokrat = politik. atrinya tidak independen dari pengaruh politik partai tertentu.

Klo Renetil = PD mau maju tunjukanlah bahwa kalian beda dari Fretelin kalian beda dari CNRT klo tida orang akan bilang AVINAL SIRA HANESAN DEIT.

obrigado
By Hatutan